Aku benci
keadaanku yang seperti ini. Hatiku kembali tergoyah pada rasa yang tak kan
kembali. Semua keputusnaku kembali membuatku terluka. Pisau bermata dua itu,
semakin menunjukkan ketajamannya. Mengoyak hati ini menjadi sayatan-sayatan
luka dan penyesalan. Kegelisahan ini bukan tanpa alasan atau karena lemahnya
hatiku, tapi memang harus begini. Sejak awal aku sudah tahu. Aku yang salah.
Seharusnya, kubiarkan jalan itu tetap tertutup, namun aku bersikeras
membukanya, dan inilah hasilnya. Berapa kali lagi aku kan terpuruk dan terus
menahan luka yang tak kan pernah sempat untuk sembuh. Tiap detiknya, aku
dihantui rasa sedih yang mendalam. Pikiranku entah tertuju pada siapa. Setiap
waktu yang berlalu, bayanganmu tetap tergambar, walau kini tak satupun kenanganmu
yang tersisa, tapi dihatiku kau masih hidup.
Seharusnya
mungkin kuhilangkan semua ini bersama waktu yang berlalu. Aku kira, waktu kan
mampu menguatkan hatiku. Tapi aku salah. Aku tak mampu menerima waktu yang
memisahkan jalanku. Aku kembali menambaha daftar keslahanku. Kubiarkan hatiku
terpecah dan melemah. Kini, aku harus menanggung pedih yang melebihi saat
kemarin. Sakit ini bertambah parah dan semakin parah. Kau terus tersenyum dan
memanjakanku, tak tahukah itu menambah lukaku. Kau tak bisa terus menjagaku,
karena aku telah melukaimu berulang kali. Tapi, karena senyum itu juga yang
menguatkanku, dan memberi luka secara bersamaan.
Jika aku
tak berumur panjang, aku ingin meminta maaf padamu, aku ingin menebus dosaku
padamu. Ini bukan belas kasihan ataupun sekedar penyesalan. Tapi aku
bersungguh-sungguh. Aku ingin mengulang semuanya diantara kita. Tak kan ada
lagi penghianatan dan kesedihan. Aku ingin melihat senyum itu di wajahmu. Aku
ingin membuatmu bahagia di sisa hidupku. Biarkan luka ini sembuh bersama
pengampunanmu.




0 komentar:
Posting Komentar