susah senang adalah satu, yang memberi makna dalam hidup
RSS



Minggu, 14 September 2014

emosi


Aku benci keadaanku yang seperti ini. Hatiku kembali tergoyah pada rasa yang tak kan kembali. Semua keputusnaku kembali membuatku terluka. Pisau bermata dua itu, semakin menunjukkan ketajamannya. Mengoyak hati ini menjadi sayatan-sayatan luka dan penyesalan. Kegelisahan ini bukan tanpa alasan atau karena lemahnya hatiku, tapi memang harus begini. Sejak awal aku sudah tahu. Aku yang salah. Seharusnya, kubiarkan jalan itu tetap tertutup, namun aku bersikeras membukanya, dan inilah hasilnya. Berapa kali lagi aku kan terpuruk dan terus menahan luka yang tak kan pernah sempat untuk sembuh. Tiap detiknya, aku dihantui rasa sedih yang mendalam. Pikiranku entah tertuju pada siapa. Setiap waktu yang berlalu, bayanganmu tetap tergambar, walau kini tak satupun kenanganmu yang tersisa, tapi dihatiku kau masih hidup.

Seharusnya mungkin kuhilangkan semua ini bersama waktu yang berlalu. Aku kira, waktu kan mampu menguatkan hatiku. Tapi aku salah. Aku tak mampu menerima waktu yang memisahkan jalanku. Aku kembali menambaha daftar keslahanku. Kubiarkan hatiku terpecah dan melemah. Kini, aku harus menanggung pedih yang melebihi saat kemarin. Sakit ini bertambah parah dan semakin parah. Kau terus tersenyum dan memanjakanku, tak tahukah itu menambah lukaku. Kau tak bisa terus menjagaku, karena aku telah melukaimu berulang kali. Tapi, karena senyum itu juga yang menguatkanku, dan memberi luka secara bersamaan.
Jika aku tak berumur panjang, aku ingin meminta maaf padamu, aku ingin menebus dosaku padamu. Ini bukan belas kasihan ataupun sekedar penyesalan. Tapi aku bersungguh-sungguh. Aku ingin mengulang semuanya diantara kita. Tak kan ada lagi penghianatan dan kesedihan. Aku ingin melihat senyum itu di wajahmu. Aku ingin membuatmu bahagia di sisa hidupku. Biarkan luka ini sembuh bersama pengampunanmu.

0 komentar:

Posting Komentar