susah senang adalah satu, yang memberi makna dalam hidup
RSS



Kamis, 19 Maret 2015

THE WAY OF LOVE



Story about love, friends, and life


Vanizio & Azura
Love,
GG


CHAPTER 1


******
Musim hujan sudah mulai. Tanah basah dan aroma wangi hujan tercium tiap hari. Dari balik jendela seorang gadis melirik keluar. Menatap rintik hujan diluar. Hatinya sesuram hari ini, ia harus segera berangat kuliah tapi hujan tak kunjung berhenti. Berkali-kali ia menatap keluar berharap hujan berhenti.
"aaah, bagaimana ini? Payungpun tak punya. Apa iya harus basah-basahan."
Lima menit lagi kelas dimulai, untungnya hujan mulai berhenti menyisakan rintikan gerimis. Ia langsung berlari keluar menuju kampus. Dengan tergesa-gesa ia berlari ke kelasnya. Tiba-tiba... BRUUUUUK...
"kau tidak apa-apa?" tanya seorang cowok padanya. Ia tak menoleh tak juga menjawab dan langsung berlari kekelas.
Dalam hati ia bersyukur bisa masuk kelas tepat waktu. Tapi kini ia mulai sadar bahwa kakinya luka dan ia merasa ngilu, sepertinya terkilir.
"azura, kau kenapa?" tanya seorang cewek yang sepertinya temannya.
"ah tidak, tadi aku terjatuh. Mungkin terbentur lantai jadi agak sakit" jawab azura sambil menahan sakitnya.
"kau ini, kenapa terjatuh, ceroboh sekali" cerca temannya yang lain.
Azura hanya merenges mendengar omelan teman-temannya itu.


Di sisi lain, seorang cowok berdiri dari tempatnya jatuh dan tertegun. Ia merasa heran. Tak lama kemudian ia segera beranjak dari tempat itu dan menuju ke ruang dosen. Rupanya ia adalah mahasiswa pindahan dari Inggris.
"baik, jadi mulai hari ini kamu sudah bisa ikut pelajaran" jelas seorang dosen padanya yang rupanya adalah ketua jurusan.
"iya pak, terima kasih"
"ah, itu dia dosen untuk kelasmu nanti. Pak agus, kemari sebentar" ia memanggil dosen yang tengah lewat. Segera yang dipanggil menghampiri mereka.
"ini Vanizio, murid pindahan dari Inggris. Mulai hari ini ia akan masuk di PAP B 2012. bapak akan mengajar kelas itu kan?"
"Ah iya pak. Ini saya sedang menuju kesana"
"tolong sekalian ajak nak Vaizio ke kelas ya pak."
"iya pak. Mari nak Vanizio"
Vanizio segera mengikuti dosen yang dipanggil pak agus itu. Setelah memberi hormat, ia bergegas pergi.

Di kelas, para mahasiswa sedang asyik ngobrol sembari menunggu dosen mereka datang. Terlihat sosok dosen yang ditunggu mulai mendekat, semua mahasiswa di kelas itu mulai duduk dengan rapi.
"selamat pagi anak-anak." sapa pak agus sesampainya didalam kelas
PAGI PAAAK... Jawab mereka serempak.
"hari ini kita ada teman baru, nah silahkan perkenalkan diri kepada teman-temanmu"
"nama saya Vanizio Faries Danuella Vinsherment. Pindahan dari Inggris. Kalian bisa panggil  Zio"
Oooh... Tampak mereka saling berbisik dan berkasak-kusuk. Zio hanya tersenyum melihat teman barunya itu. Ia paham bahwa tak mudah pindah begitu saja ditengah semester, sudah pasti banyak yang curiga. Ia hanya melihat reaksi dari mereka sambil tersenyum. Namun, bagi zio yang notabene-nya anak cerdas bahkan bisa dibilang jenius, itu mungkin saja. Kemudian matanya mulai membelalak kaget. Matanya tertuju pada seorang gadis diujung kanan yang tengah menunduk sambil memegangi kakinya. Sepertinya ia kesakitan. Dia gadis yang bertabrakan denganku tadi...

Setelah acara perkenalan singkat itu, pelajaran segera dimulai. Satu setengah jam kemudian pelajaran usai. Semua mahasiswa bersiap keluar. Nampak beberapa anak mengerubungi zio, kebanyakan dari mereka adalah anak cewek. Dengan tampang yang diatas rata-rata bahkan nampak sempurna, tentu saja zio mudah mendapat perhatian cewek. Bahkan di Inggrispun ia sangat populer dikalangan cewek.
"jadi, kamu dari Inggris? Namaku juwita."
"aku lola"
"aku sally"
Mereka saling berebut untuk berkenalan dengan zio, tapi zio sedang menatap kearah lain. Kearah gadis yang sedang merapikan bukunya. Sepertinya ia sudah mau pulang. Benar saja. Ia berdiri dan berjalan keluar dengan terpincang-pincang. Tidak salah lagi, pasti dia...
"permisi, aku harus pergi sekarang" zio meninggalkan kerumunan cewek yang mengelilinginya dan bergegas mengejar gadis yang sedari tadi diamatinya.

"tunggu! Hei, kau!" zio mencegat azura yang tengah berjalan. Yang dicegat cuma bisa diam, bingung.
"iya?"
"kamu, aku... Itu...." zio mencoba menjelaskan namun masih belum bisa berkata
"iya, kenapa?" azura nampak semakin bingung
"huh. Itu, aku mau minta maaf" jelas zio akhirnya mulai bisa menguasai dirinya. cuma minta maaf. Keep calm zio, calm...tenanglah, tak akan ada hal buruk yang terjadi...
"menabrak? Tadi?" Azura nampak masih bingung
"iya tadi, kamu dari arah sana dan aku tak melihatmu karena aku sedang membaca denah mencari ruang dosen dan aku menabrakmu, dan sepertinya kakimu terluka karena itu..." jelas zio panjang lebar
"oooh..." azura sudah mulai megerti keadaan yang sebenarnya.
"iya. Jadi, maaf. Sudah menabrakmu."
Azura tersenyum, dan tertawa kecil. Zio hanya menatapnya bingung. Mengerti kebingungan zio, azura mulai menjelaskan kepada zio.
"sebenarnya aku yang salah. Tadi aku berlari tanpa lihat-lihat karna hampir telat. Dan aku bahkan tak tau kalo aku menabarakmu. Aku pikir aku terpleset atau menabrak tiang. Jadi, itu bukan salahmu. So, it's okay"
"but you hurt. Kakimu." zio melirik kearah kaki azura
Azura tersenyum dan berkata tidak apa-apa. Tapi zio bersikeras untuk membawanya berobat. Akhirnya azura mengalah dan membiarkan zio membawanya berobat.


Diperjalanan pulang dari berobat.
"kamu buru-buru? Do you mind if I go to somewhere before I drive you home? Ada hal yang harus ku urus sebentar."
"I'm fine. Okay."
Zio memutar mobilnya dan berhenti di depan sebuah salon. Mereka berdua turun dan masuk ke salon.
"zio, you are late!" amuk seorang dari dalam segera setelah mereka masuk.
"sorry Alex. I have something to do first."
"you know, Raivan hampir melahapku hidup-hidup."
"ya, jika kamu tak datang dalam lima menit lagi" ungkap seseorang dari dalam yang sepertinya bernama Raivan. "kenapa lama sekali? Kamu tau betapa pentingnya project kita kali ini. Kita bahkan belum ada model."
"aku tau, tapi aku ada sedikit kecelakaan. Soal model, biar kuurus. Nanti kucari sendiri."
"kita harus segera menyelesaikan ini, zio. Model yang utama, raivan tak kan bisa membuat kostum tanpa model. Dan aku, siapa yang harus kurias jika tak ada model. So, please choose one model as soon as posible."
"okay, I will."

Azura hanya memandang kejadian itu dari depan pintu. Sepertinya mereka melupakan keberadaannya. Tapi ia merasa agak bersalah karena membuat zio terlambat untuk sesuatu yang nampaknya penting bagi mereka. Azura mencoba menatap sekeliling. Tempat itu nampak seperti salon pada umumnya. Ada tangga diujung sana yang mengarah ke lantai atas. Tapi, tak nampak ada pengunjung di salon itu. Hanya ada mereka bertiga. Sepertinya itu salon milik mereka bertiga. Di dinding-dinding terpajang banyak foto. Bukan foto potongan rambut seperti foto yang umumnya nampak di salon. Tapi, foto yang terlihat artistik. Seperti foto model. Model? Bukankah itu yang mereka bicarakan tadi, apa mereka... Siapa mereka?

"siapa itu?" tanya alex setengah berteriak membuyarkan lamunan azura. Mereka bertiga menatap ke arah azura.
"oh. Ini teman kelasku. Tadi aku mengantarnya berobat. Jadi, aku pergi dulu." tau temannya mulai akan bertanya macam-macam, zio segera menarik azura keluar dan bergegas pergi meninggalkan alex dan raivan yang bengong tak mengerti.

 Malamya, alex dan raivan tak henti-hentinya mengintrogasi zio. Zio hanya bisa diam menahan emosinya. Ia segera mengalihkan pembicaraan dengan mengatakan ia akan mulai mencari model besok. Setelah itu, ia bergegas pulang. Badannya yang lelah membuatnya tertidur dengan cepat. Azura masih terjaga. Sepasang headset ditelinganya melekat mengiringi malamnya. Tak lama kemudian ia mulai menutup matanya dan tertidur.





0 komentar:

Posting Komentar