THE WAY OF LOVE
Story about love, friends, and life
Vanizio & Azura
Love,
GG
CHAPTER 1
******
Musim
hujan sudah mulai. Tanah basah dan aroma wangi hujan tercium tiap hari. Dari
balik jendela seorang gadis melirik keluar. Menatap rintik hujan diluar.
Hatinya sesuram hari ini, ia harus segera berangat kuliah tapi hujan tak
kunjung berhenti. Berkali-kali ia menatap keluar berharap hujan berhenti.
"aaah,
bagaimana ini? Payungpun tak punya. Apa iya harus basah-basahan."
Lima menit
lagi kelas dimulai, untungnya hujan mulai berhenti menyisakan rintikan gerimis.
Ia langsung berlari keluar menuju kampus. Dengan tergesa-gesa ia berlari ke
kelasnya. Tiba-tiba... BRUUUUUK...
"kau
tidak apa-apa?" tanya seorang cowok padanya. Ia tak menoleh tak juga
menjawab dan langsung berlari kekelas.
Dalam hati
ia bersyukur bisa masuk kelas tepat waktu. Tapi kini ia mulai sadar bahwa
kakinya luka dan ia merasa ngilu, sepertinya terkilir.
"azura,
kau kenapa?" tanya seorang cewek yang sepertinya temannya.
"ah
tidak, tadi aku terjatuh. Mungkin terbentur lantai jadi agak sakit" jawab
azura sambil menahan sakitnya.
"kau
ini, kenapa terjatuh, ceroboh sekali" cerca temannya yang lain.
Azura
hanya merenges mendengar omelan teman-temannya itu.
Di sisi
lain, seorang cowok berdiri dari tempatnya jatuh dan tertegun. Ia merasa heran.
Tak lama kemudian ia segera beranjak dari tempat itu dan menuju ke ruang dosen.
Rupanya ia adalah mahasiswa pindahan dari Inggris.
"baik,
jadi mulai hari ini kamu sudah bisa ikut pelajaran" jelas seorang dosen
padanya yang rupanya adalah ketua jurusan.
"iya
pak, terima kasih"
"ah,
itu dia dosen untuk kelasmu nanti. Pak agus, kemari sebentar" ia memanggil
dosen yang tengah lewat. Segera yang dipanggil menghampiri mereka.
"ini
Vanizio, murid pindahan dari Inggris. Mulai hari ini ia akan masuk di PAP B
2012. bapak akan mengajar kelas itu kan?"
"Ah
iya pak. Ini saya sedang menuju kesana"
"tolong
sekalian ajak nak Vaizio ke kelas ya pak."
"iya
pak. Mari nak Vanizio"
Vanizio
segera mengikuti dosen yang dipanggil pak agus itu. Setelah memberi hormat, ia
bergegas pergi.
Di kelas,
para mahasiswa sedang asyik ngobrol sembari menunggu dosen mereka datang.
Terlihat sosok dosen yang ditunggu mulai mendekat, semua mahasiswa di kelas itu
mulai duduk dengan rapi.
"selamat
pagi anak-anak." sapa pak agus sesampainya didalam kelas
PAGI
PAAAK... Jawab mereka serempak.
"hari
ini kita ada teman baru, nah silahkan perkenalkan diri kepada
teman-temanmu"
"nama
saya Vanizio Faries Danuella Vinsherment. Pindahan dari Inggris. Kalian bisa
panggil Zio"
Oooh...
Tampak mereka saling berbisik dan berkasak-kusuk. Zio hanya tersenyum melihat
teman barunya itu. Ia paham bahwa tak mudah pindah begitu saja ditengah
semester, sudah pasti banyak yang curiga. Ia hanya melihat reaksi dari mereka
sambil tersenyum. Namun, bagi zio yang notabene-nya anak cerdas bahkan bisa
dibilang jenius, itu mungkin saja. Kemudian matanya mulai membelalak kaget.
Matanya tertuju pada seorang gadis diujung kanan yang tengah menunduk sambil
memegangi kakinya. Sepertinya ia kesakitan. Dia
gadis yang bertabrakan denganku tadi...
Setelah
acara perkenalan singkat itu, pelajaran segera dimulai. Satu setengah jam
kemudian pelajaran usai. Semua mahasiswa bersiap keluar. Nampak beberapa anak
mengerubungi zio, kebanyakan dari mereka adalah anak cewek. Dengan tampang yang
diatas rata-rata bahkan nampak sempurna, tentu saja zio mudah mendapat
perhatian cewek. Bahkan di Inggrispun ia sangat populer dikalangan cewek.
"jadi,
kamu dari Inggris? Namaku juwita."
"aku
lola"
"aku
sally"
Mereka
saling berebut untuk berkenalan dengan zio, tapi zio sedang menatap kearah
lain. Kearah gadis yang sedang merapikan bukunya. Sepertinya ia sudah mau
pulang. Benar saja. Ia berdiri dan berjalan keluar dengan terpincang-pincang. Tidak salah lagi, pasti dia...
"permisi,
aku harus pergi sekarang" zio meninggalkan kerumunan cewek yang
mengelilinginya dan bergegas mengejar gadis yang sedari tadi diamatinya.
"tunggu!
Hei, kau!" zio mencegat azura yang tengah berjalan. Yang dicegat cuma bisa
diam, bingung.
"iya?"
"kamu,
aku... Itu...." zio mencoba menjelaskan namun masih belum bisa berkata
"iya,
kenapa?" azura nampak semakin bingung
"huh.
Itu, aku mau minta maaf" jelas zio akhirnya mulai bisa menguasai dirinya. cuma minta maaf. Keep calm zio, calm...tenanglah, tak
akan ada hal buruk yang terjadi...
"menabrak?
Tadi?" Azura nampak masih bingung
"iya
tadi, kamu dari arah sana dan aku tak melihatmu karena aku sedang membaca denah
mencari ruang dosen dan aku menabrakmu, dan sepertinya kakimu terluka karena
itu..." jelas zio panjang lebar
"oooh..."
azura sudah mulai megerti keadaan yang sebenarnya.
"iya.
Jadi, maaf. Sudah menabrakmu."
Azura
tersenyum, dan tertawa kecil. Zio hanya menatapnya bingung. Mengerti
kebingungan zio, azura mulai menjelaskan kepada zio.
"sebenarnya
aku yang salah. Tadi aku berlari tanpa lihat-lihat karna hampir telat. Dan aku
bahkan tak tau kalo aku menabarakmu. Aku pikir aku terpleset atau menabrak
tiang. Jadi, itu bukan salahmu. So, it's okay"
"but
you hurt. Kakimu." zio melirik kearah kaki azura
Azura
tersenyum dan berkata tidak apa-apa. Tapi zio bersikeras untuk membawanya
berobat. Akhirnya azura mengalah dan membiarkan zio membawanya berobat.
Diperjalanan
pulang dari berobat.
"kamu
buru-buru? Do you mind if I go to somewhere before I drive you home? Ada hal
yang harus ku urus sebentar."
"I'm
fine. Okay."
Zio
memutar mobilnya dan berhenti di depan sebuah salon. Mereka berdua turun dan
masuk ke salon.
"zio,
you are late!" amuk seorang dari dalam segera setelah mereka masuk.
"sorry
Alex. I have something to do first."
"you
know, Raivan hampir melahapku hidup-hidup."
"ya,
jika kamu tak datang dalam lima menit lagi" ungkap seseorang dari dalam
yang sepertinya bernama Raivan. "kenapa lama sekali? Kamu tau betapa
pentingnya project kita kali ini. Kita bahkan belum ada model."
"aku
tau, tapi aku ada sedikit kecelakaan. Soal model, biar kuurus. Nanti kucari
sendiri."
"kita
harus segera menyelesaikan ini, zio. Model yang utama, raivan tak kan bisa
membuat kostum tanpa model. Dan aku, siapa yang harus kurias jika tak ada
model. So, please choose one model as soon as posible."
"okay,
I will."
Azura
hanya memandang kejadian itu dari depan pintu. Sepertinya mereka melupakan
keberadaannya. Tapi ia merasa agak bersalah karena membuat zio terlambat untuk
sesuatu yang nampaknya penting bagi mereka. Azura mencoba menatap sekeliling.
Tempat itu nampak seperti salon pada umumnya. Ada tangga diujung sana yang
mengarah ke lantai atas. Tapi, tak nampak ada pengunjung di salon itu. Hanya
ada mereka bertiga. Sepertinya itu salon milik mereka bertiga. Di
dinding-dinding terpajang banyak foto. Bukan foto potongan rambut seperti foto
yang umumnya nampak di salon. Tapi, foto yang terlihat artistik. Seperti foto
model. Model? Bukankah itu yang mereka
bicarakan tadi, apa mereka... Siapa mereka?
"siapa
itu?" tanya alex setengah berteriak membuyarkan lamunan azura. Mereka
bertiga menatap ke arah azura.
"oh.
Ini teman kelasku. Tadi aku mengantarnya berobat. Jadi, aku pergi dulu."
tau temannya mulai akan bertanya macam-macam, zio segera menarik azura keluar
dan bergegas pergi meninggalkan alex dan raivan yang bengong tak mengerti.
Malamya,
alex dan raivan tak henti-hentinya mengintrogasi zio. Zio hanya bisa diam
menahan emosinya. Ia segera mengalihkan pembicaraan dengan mengatakan ia akan
mulai mencari model besok. Setelah itu, ia bergegas pulang. Badannya yang lelah
membuatnya tertidur dengan cepat. Azura masih terjaga. Sepasang headset
ditelinganya melekat mengiringi malamnya. Tak lama kemudian ia mulai menutup
matanya dan tertidur.





0 komentar:
Posting Komentar