susah senang adalah satu, yang memberi makna dalam hidup
RSS



Kamis, 19 Maret 2015

THE WAY OF LOVE

 Story about love, friends, and life
Vanizio & Azura
Love,
GG

CHAPTER 3

******

Suasana kampus sangat ramai dan berisik. Hari ini adalah pengumuman pemenang kontes foto tempo hari. Tapi yang lebih berisik dan membuat pusing bukan keramaian kontes foto tapi teman-teman azura yang terus mengintrogasinya dengan bombardir pertanyaan. Bahkan azura tak punya kesempatan menjawab.
"jadi, kamu pacaran sama zio? Jawab? Kok bisa kamu tiduran bareng zio..." berondong pertanyaan teman azura

"iya jawab" yang lain serempak mengikuti
"kalian, aku gak ada apa-apa sama zio. Dan soal itu, itu Cuma kebetulan."
"bagaimana bisa kebetulan? Kamu tidur dipangkuan zio, dibawah pohon. Kalo gak pacaran apa namanya? dia itu dari Inggris, kalo kalian keluar berdua alias dating itu namanya pacaran." cerocos teman azura masih tak percaya
"tapi aku gak pacaran sama zio. Fara, please stop it. Dan kenapa bisa kalian tau soal itu?"
"fotonya disebar lewat bbm semalam" jawab teman azura yang bernama fara itu
"apa? Siapa, kok bisa?"
"ya mana aku tau. Yang jelas kita semua udah pasti dapat foto itu. Dan maslahnya sekarang, kamu dalam bahaya."
"bahaya? Kenapa?"
"my bestfriend azura sayang, kamu pikir berapa banyak penggemarnya zio. Dan yang pasti mereka gak akan tinggal diam setelah lihat foto itu. Jadi mendingan kamu kabur sekarang sebelum mereka datang."
"kabur? Kemana?"
"mana aja, yang penting kamu selamat buruan sana"
Azura menatap teman-temannya yang mengerubunginya, tatapan mereka seakan setuju pada ucapan fara agar ia segera kabur dari amukan penggemar zio. Azura akhirnya pergi. Ia berjalan berusaha menghindari amukan penggemar zio.

Zio yang baru datang tak tau menahu mengenai kejadian itu. Ia mencari azura tapi azura tak nampak dimanapun. Akhirnya ia bertemu fara dan teman-temannya.
"hei, kamu liat azura? Aku mencarinya dari tadi tapi gak ketemu." tanya zio pada fara
"oh, tadi dia pergi. Gak tau kemana. Kenapa? Ada yang penting?"
"ah, iya... Ada sesuatu yang mau aku kasih ke dia. Oke see you."
"tunggu, zio... Boleh aku tanya sesuatu?"
"boleh"
Fara bangkit dari duduknya dan berbisik di telinga zio. Sejenak zio agak terkejut, namun kemudian wajahnya terlihat normal kembali.
"kenapa? Apa aku tidak boleh?"
"jadi? Kamu, benar-benar... Haaaa" fara terkejut dan tak mampu berkata-kata
Zio hanya tersenyum dan bergegas pergi mencari azura kembali. Sementara fara masih tak percaya dengan penuturan zio barusan.
Di sisi lain, para penggemar zio berkumpul dan mencari azura. Wajah mereka nampak marah dan ganas.
Sementara azura mulai masuk kekerumunan yang tengah menunggu pengumuman pemenang kontes foto. Hatinya bingung tak tenang.

"dan inilah saatnya kita umumkan pemenang kontes foto untuk tingkat fakultas yang nantinya akan menjadi perwakilan untuk maju ke tingkat universitas.." pengumuman dari MC acara menyita seluruh perhatian mahasiswa dan membuat mereka menghentikan kegiatan mereka. Mereka yang mengikuti kontes berharap cemas. Suasana berubah menegangkan.
"oke, dan pemenangnya adalah....." foto pemenang ditampilakn di layar dan membuat semua penonton terkejut.
"GABRIELLA GEVAZURA"

Azura masih tak percaya, barusan namanya dipanggil. Ia merasa seolah bermimpi. Bagaimana bisa, ia bahkan tak mengikuti kontes itu.

"kepada pemenang silahkan maju ke depan untuk menerima hadiah."
Azura masih diam terpaku ditempat. Seluruh penonton termasuk zio mulai mencari keberadaan azura.
"ayo gabriella gevazura, silahkan maju..."
Dari tengah kerumunan penonton nampak ada keributan. Azura yang mulai sadar melihat orang disekelilingnya. Mereka semua menatapnya dan kemuadian membimbingnya maju ke atas panggung. Semua mata kini tertuju pada azura dipanggung.

"ini dia pemenang kita..."
"tu..tunggu... Maaf tapi aku bahkan tak mengikuti kontes ini, jadi, bagaimana bisa? Kalian mungkin salah orang."
"apa ini fotomu?" MC menunjukkan foto di layar pada azura. Azura terkejut. Itu benar dirinya. tapi bagaimana bisa? Siapa yang memotretnya? Di bawah hujan... Di taman.
"jadi, bagaimana?" tanya MC acara
"ah iya, itu saya, tapi..."
"ya kalo itu benar kamu, berarti kamu pemenangnya."

Azura masih tak percaya. Saat itu matanya menangkap sosok seseorang yang tersenyum. Zio, orang itu zio. Azura bertanya-tanya... Mungkinkah itu zio...
Azura diberi hadiah dan disematkan selempang penghargaan. Kemudian ia berjalan turun dari panggung menuju ke arah zio berdiri. Sampai di tengah perjalanan, dia dihadang kerumunan penggemar zio yang marah.wajah mereka nampak ganas dan penuh amarah.
"jadi ini, orang yang sudah menggoda pangeran kita." ucap salah satu dari mereka yang nampaknya merupakan ketua dari mereka
"bunuh aja" teriak yang lain bersama-sama
"berani juga ya, apa kamu merasa cantik, bahkan sampai ikut kontes segala" ucap sang ketua kembali.
Si ketua geng memulai aksinya dengan mengambik boquet bunga dan melemparnya. Kemudian ia menarik rambut azura. Azura hanya bisa menahan sakit karena rambutnya ditarik. Si ketua menghempaskan tubuh azura dan membuatnya hampir kehilangan keseimbangan. Tangan si ketua berayun hendak menampar wajah azura, dan....

"hentikan" sergah zio sambil menggenggam tangan si ketua yang nyaris menyentuh pipi azura.
"zi..zii...zio..." si ketua tergagap kaget.
"pergilah"
"ta...tapii... Dia, dia berani...di pangkuanmu..."
"kenapa? Apa pacarku tak boleh tidur di pangkuanku?"
"pacar?" ucap mereka serempak
"apa kalian tak tau artinya? Atau harus kuejakan? Pergilah cepat selagi aku masih berbaik hati" mendengar perkataan zio mereka langsung berlari pergi. Zio menatap azura dan tersenyum. Saat mereka menatap sekeliling, ternyata semua orang disana menatap mereka dan menyaksikan semua kejadian tadi termasuk pengakuan zio bahwa azura adalah pacarnya. Melihat tatapan semua orang membuat zio panik, ia menarik tangan azura dan pergi dari situ secepatnya.

.........................................


Zio membawa azura pergi dengan mobilnya. Di perjalanan keduanya hanya bisa membeku dalam diam.
"zio..." suara azura mulai memecah kebisuan keduanya
"ya"
"aku ingin tanya, tapi aku tak tau apa yang harus kutanyakan atau tepatnya harus mulai dari mana"
"kau bisa memulai salah satunya dari sekarang. Tanyalah..." zio membalas dengan senyum manis diwajahnya.
"apa kau yang mengambil foto itu? Lalu, kontes itu? Kemudian tadi...." kata-kata azura terhenti
"kenapa? Apa?" zio balas dengan masih menyunggingkan senyum membuat azura makin salah tingkah. "oke, akan kujawab, tapi nanti. Aku harus beristirahat. Semua ini cukup melelahkan."
Zio memarkirkan mobilnya di salah satu taman di pusat kota. Tempat itu cukup ramai. Banyak pohon yang mengelilingi tepiannya. Dan di sekeliling area banyak anak-anak dan juga orang tua sedang bermain. Seperti piknik atau acara keluarga. Zio duduk disalah satu bangku taman. Azura mengikuti zio dan duduk disebelahnya.
"oke, akan mulai kujawab. Pertama mengenai foto. Iya, itu aku dan aku juga yang mendaftarkannya. Ingat saat aku mengajakmu ketaman? Sebenarnya aku ingin memberitahumu tapi, tidak jadi."
"lalu... Kenapa?"
"entahlah, aku juga tak tau. Soal yang tadi, aku juga tak tau. Kata-kata itu terucap begitu saja."
"maksudnya?"
"aku hanya tak ingin melihatmu disakiti."
"oooh.."
"yah, sudah terlanjur. Jadi sekarang kau hanya punya dua pilihan. Mengikutiku dan berpura-pura menjadi pacarku, atau..."
"apa?pura-pura? Jadi pacarmu?" azura terkejut akan ucapan zio
"ya kalau kamu tidak suka pura-pura kita buat ini menjadi nyata. Kamu jadi pacarku. Itu pilihan kedua.."
Azura hanya bisa diam, ia tak mampu menajwab semua itu. Berpura-pura atau benar-benar menjadi pacar zio. Tunggu, itu seperti sebuah pengakuan, apa ia mengakui perasaannya padaku?benarkah?
"kenapa diam? Jadi pilih mana?"
"kenapa kau mau jadi pacarku? Kau menyukaiku?" pertanyaan azura sukses membuat zio tak berkutik. Kini zio yang tak bisa menjawab. "kenapa diam?"
"entahlah. Aku tak tau. Mungkin karna kamu seperti matahari yang hangat."
"yang hangat itu kau zio" ucap azura keceplosan
"apa? Tadi kau bilang apa?"
"tidak ada"
"aku tau tadi kau mengatakan sesuatu. Apa itu?"
"tidak ada. Jadi kenapa kau mengikutkan fotoku untuk kontes?"tanya azura mencoba mengalihkan pembicaraan.
"kau ingin tau? Benar ingin tau?"
"iya. Kenapa?"
"ikut aku"
"kemana?"
"ikut saja"


TBC


0 komentar:

Posting Komentar