ceritanya sih pengen bikin cerita fiksi tentang peri-peri. tapi gak tau kenapa jadinya gaje gini... T_T
inspirasinya asli dari aku sendiri. tepatnya dari mimpi pas masa-masanya insomnia. artinya, ini cerita dari mimpi dipagi hari jam 5 pagi tepatnya... jadi, beginilah hasilnya...
ANGEL
Putri
Zeavaruus A. Veiden a.k.a Archangel
Raja Shin
Veiden
Klan Angel
Kerajaan
Veiden
************************************************************
PROLOG
Kesunyian
hutan di pagi hari mulai terusik. Angin berhembus menghempas dedaunan. Suasana
dingin semakin mencekam. Sayap-sayap bekelebatan diudara menembus angin hutan.
"nafasku
sudah seperti mau habis. Aku sangat lelah"
"kita
harus bisa bertahan lebih lama lagi. Sedikit lagi kita sampai diperbatasan. Kau
harus bertahan sora."
"archa,
tenagaku hampir habis."
"kau
harus bertahan. Demi arya."
"kau
benar"
Lima
pasang sayap terbang mendekat menembus pepohonan. Raut wajah serius mereka
semakin garang mengetahui sasaran mereka sudah terlihat.
"lihat
kakak,mereka disana!"
"kau
benar, ayo semua percepat!"
"kalian
berdua, berhenti!"
Nampak
kilatan menuju dua sayap didepan mereka dan menghantam dahan menghentikan dua
sayap didepan mereka.
"apa
yang kau inginkan Argus?"
"bayimu,
sora" orang yang dipanggil argus menyeringai.
"takkan
kubiarkan kau mendekatinya." archa melangkah kedepan sora dan
melindunginya.
Mereka
berlima tampak semakin gusar. "hentikan Archa, tak sepantasnya kau
melindunginya. Seorang klan Angel sepertimu seharusnya bergabung dengan
kami." ucap salah satu dari mereka geram.
"hah,
apa hakmu melarangku nemon? Kalian yang seharusnya menghindar. Takkan kubiarkan
kalian melangkah lebih jauh lagi." archa menatap tajam kelima orang
didepannya. Ia melirik kearah sora dibelakangnya dan menyuruhnya pergi. Sora
terbang menjauh. Mereka berlima hendak mengejar tapi dihalangi archa.
"hadapi dulu aku."
Kilat dan
petir mulai bergemuruh. Cahaya muncul ditengah hutan menandakan pertarungan
diantara mereka mulai terjadi. Ledakan demi ledakan terus terjadi dan semakin
besar menerangi gelap hutan.
Sayap
putih besar itu mengembang diudara menunjukkan kekuasan dan besar kekuatannya.
Menaungi hutan dibawahnya dan melebar seperti hiasan langit. Di bawah matahari
pagi yang mulai muncul, silhouet peri terkuat menampakkan kekuasaannya.
CHAPTER 1
Zeal
Highschool, saat ini
Suasana
sekolah itu ramai oleh anak-anak yang beranjak keluar dari gedung sekolah. Jam
sekolah sudah usai dan mereka semua bergegas pulang ke rumah masing-masing. Tak
terkecuali pemuda itu. Ia kembali merapatkan jaketnya menghalau udara dingin
yang berhembus seenaknya. Langkahnya semakin dipercepat menembus kerumunan
anak-anak lain di sekitarnya.
Jalanan di
daerah itu dikelilingi pohon hijau yang rimbun. Suasananya akan menjadi indah
jika saja angin yang bertiup tidak terlalu kencang.
"Handy..."
Panggilan
itu sontak membuat Handy menoleh kearah suara itu berasal.
"ibu...
Apa yang ibu lakukan disini? Bukankah seharusnya ibu tetap bersembunyi?"
"Handy,
dengar nak, ibu tak punya banyak waktu." hening sejenak. Lalu.. " kau
harus berhati-hati nak. Kalau perlu kau dan adik-adikmu harus bersembunyi,
situasi saat ini tidak aman. Mereka sudah mulai beraksi kembali."
"apa
maksud ibu?"
"ibu
melihat mereka mulai mengumpulkan nyawa para peri lagi. Itu tak baik. kau harus
sembunyi han...." tiba-tiba tubuh wanita itu mulai meredup seperti
hologram yang mulai akan hilang.
"ibu,
ibu kenapa?"
Handy
mulai panik. Tubuh ibunya semakin meredup. Handy membuka kedua tangannya dan
mengeluarkan cahaya kebiruan kearah ibunya. Tubuh wanita itu berhenti meredup
lalu menghilang. Handy segera pergi meninggalkan tempat itu. Nalurinya
mengatakan ia tak lagi aman jika berlama-lama disana.
Beberapa
langkah dari tempat itu, Handy melihat seorang gadis yang sangat dikenalnya.
Itu Sean teman kelasnya. Tubuhnya juga meredup seperti ibunya tadi. Refleks
Handy membuka tangannya seperti yang ia lakukan pada ibunya. Sosok gadis itupun
menghilang.
Handy
semakin mempercepat langkahnya, raut wajahnya semakin pucat dan cemas. Ia
merasa ada yang mengikutinya. Ia semakin cemas. Sosok hitam dibelakangnya
semakin nampak. Mereka... Mereka Jo bersaudara. Handy semakin tak karuan.
Sedikit lagi ia sampai dirumahnya. Langkah Handy semakin cepat.
Ia merasa
seakan mantra-mantra tengah dibacakan untuknya. Mantra itu nampak kuat dan
membuat kepala Handy terasa berat. Handy tau mantra itu, mantra penangkap jiwa.
Dalam kebingungannya, Handy mendengar suara di kepalanya. Handy, kau tau mantra itu tak akan bekerja padamu.
Kau tau Handy bukan nama aslimu. Mantra itu tak akan menangkapmu... Tenanglah
Arya...
"kakaaaak...
Kak Handy"
Suara
panggilan itu membuyarkan pikiran Handy. Ia berpaling kearah suara itu. Seorang
gadis yang nampaknya hanya berjarak dua tahun darinya tengah melambai
kearahnya. Senyumnya mengembang menyambut kedatangan Handy. Segera ia berlari
menuju gadis itu.
"apa
yang kau lakukan disini dhea? Ayo masuk"
Gadis
bernama dhea itu mengikuti kata kakaknya dan berjalan masuk kerumah mereka.
"apa
yang kakak lakukan dengan Jo bersaudara?"
"apa?
Jo bersaudara?" sebelum Handy sempat menjawab sudah terdengar pekikan dari
dalam rumah mereka. "apa maksudnya dengan Jo bersaudara?" tanya satu
dari mereka dan diikuti yang satu lagi "apa mereka menganggumu?"
"tenanglah
noah, noel." Handy berusaha menenangkan kedua adik kembarnya itu dan
melanjutkan " dimana ayah dhe? Ada hal penting"
"ada
apa Handy?" suara laki-laki paruh baya yang nampak masih gagah dan muda
itu membuat mereka semua menoleh.
"ada
hal penting yah..." Handy berjalan ketengah ruangan di depan kasur lantai.
Ia menangkupkan kedua tangannya lalu membukanya perlahan. Cahaya biru terang
menyala dari tangannya dan kemudian dua tubuh wanita muncul didepan mereka.
"astaga!
Sora... Apa yang terjadi? Handy kenapa bisa begini?"
Semua
orang kini memperhatikan Handy menuntut penjelasan. Handy menjelaskan kejadian
yang dialaminya dan juga pesan dari ibunya.
...................
Kediaman
Jo bersaudara
"kak
surya, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"gadis itu tengah menatap
kakaknya menunggu perintah selanjutnya. " tenanglah sashi." ia lalu
beralih menatap adiknya yang lain " sisil, bagaimana persiapan kita?"
gadis yang dipanggil sisil itu menoleh dan tersenyum menandakan kesiapannya.
Surya menengok keadiknya yang lain lagi, "sandy, kau tau target kita
selanjutnya kan..".
"tentu
saja kak." sandy menjawab dengan mantap.
"kerjakan!"
perintah surya kepada tiga adiknya.
Sandy
mengangkat telunjuknya dan mengeluarkan kilatan dari ujungnya. Sisil dan sashi
mulai membacakan mantra. Sandy mengarahkan telunjuknya kekepala seorang gadis
yang ada didepannya. Gadis itu segera menjerit begitu kilatan itu menyentuhnya.
Jo
bersaudara merupakan kelompok peri yang kejam. Mereka tidak segan-segan untuk
membunuh target mereka. Ayah mereka Jo Sharleem merupakan salah satu peri
terkuat. Dia pernah menjadi pemimpin pasukan peri untuk mengumpulkan nyawa peri
demi membangkitkan monster jahat Hells, namun rencana itu digagalkan oleh
seorang peri klan Angel. Sekarang, mereka sedang merencanakan sesuatu dengan
kembali menangkap nyawa-nyawa para peri.




0 komentar:
Posting Komentar