susah senang adalah satu, yang memberi makna dalam hidup
RSS



Sabtu, 28 Maret 2015




THE WAY OF LOVE

CHAPTER 4
******

"salon? Apa ini salonmu?"
"ya, dan tidak. Ini salonku dan kedua temanku. Alex dan Raivan."
"mereka yang waktu itu.."
"iya. Mari masuk"
Zio membawa azura masuk dan mengajaknya keatas menaiki tangga. Ruangan dilantai dua nampak seperti sebuah ruang keluarga. Ada kursi dan meja. Lalu dipojok ada sofa panjang yang nampak nyaman untuk tidur. Di dinding ada tv LCD yang cukup besar. Dinding kaca di sebelah meja dan kursi membuat nuansa ruangan itu menjadi terang dan nyaman. Lalu, masih ada tangga untuk keatas lagi. Dari tangga itu muncul dua orang. Sepertinya mereka alex dan raivan.
"ah kau sudah datang zio" sapa salah satunya yang memiliki rambut agak panjang dan pakaian yang rapi.
"baru saja."
"alex tak sabar menunggumu dari tadi"
"kau lama sekali zio" kata seorang lagi yang memiliki gaya mirip seperti rocker.
Zio menatap azura dan mulai mengenalkannya pada kedua temannya yang sekarang sudah berdiri disampingnya."ini alex dan raivan. Temanku."
"dan juga sepupunya. Namaku raivan. Aku yang tertua dan menjadi kakak mereka berdua. Disini aku berprofesi sebagai penata kostum."  sapa raivan yang memiliki rambut lebih panjang dan wajahnya memang nampak lebih dewasa diantara mereka semua.
"kita hanya beda beberapa bulan saja. Hai, aku alex. Aku yang paling muda. Aku sebagai penata rias. Tapi jangan salah. Aku 100% pria sejati." sapa yang berpenampilan rocker yang mengaku bernama alex.
"dan aku vanizio. Lahir dua bulan dibawah raivan dan dua bulan diatas alex. Aku fotografer."
Azura tersenyum melihat mereka bertiga. "jadi apa hubungannya denganku?"
"jelas ada" jawab alex sambil tersenyum
"kau akan jadi model kami." jelas raivan
"apa?model?" azura terkejut. "kalian pasti bercanda. Apa virus zio juga mengenai kalian? Itu tidak lucu."
"virus zio? Kau bilang ingin tau. Itu alasannya kenapa aku mengikutkan fotomu di kontes.agar kau percaya bahwa kau bisa menjadi model foto kami." jelas zio agak kesal
"maaf. Tapi itu seperti kalian sedang bercanda. Mana mungkin..." belum selesai azura berbicara zio sudah memotongnya.
"kau menang kan?"
"tapi itu kebetulan."
"gak ada kebetulan zura. Kenapa kau tak percaya. Mataku tak pernah salah. Dan kini mataku melihatmu." azura hanya terdiam mendengar penjelasan zio. "ada banyak hal yang tak kau ketahui dan terkadang kau dapat melihatnya melalui lensa kamera. Itu salah satunya." lanjut zio menjelaskan.
"zio sudah banyak memotret model dan kami mengikuti setiap perlombaan. Hasilnya bagus. Kami selalu mendapat juara. Tapi, karena zio pindah kemari, kami juga mengikutinya." tutur raivan
"dan itulah masalahnya, untuk perlombaan kali ini, kami tak punya model. Karena model kami yang biasanya ada di Inggris. Itu sebabnya kami meminta bantuanmu." tambah alex.
"kalau kau tak mau tak apa" zio agak kecewa. Ia pergi kelantai atas begitu saja meninggalkan mereka bertiga.
"jangan khawatir. Zio sebenarnya baik." ucap raivan mencoba menghibur azura
"aku tau, hatinya hangat. Bahkan tangannyapun hangat." ucap azura
"kau tau? Dia hanya berpura-pura. Dia orang paling perhatian diantara kami bertiga." jelas alex sambil tersenyum

"jadi begini, zura..." raivan mulai berbicara kepada azura mengenai permasalahan mereka. Raivan menceritakan awal mula semua kejadian itu kepadanya.

...................

Raivan, zio dan alex merupakan sepupu. Usia mereka hanya terpaut beberapa bulan. Dari kecil mereka sudah bersama dan tumbuh bersama. Sekolahpun mereka selau bersama. Karena wajah mereka yang rupawan mereka dijuluki sebagai tiga pangeran. Bukan saja wajah yang rupawan, keluarga mereka juga termasuk keluarga konglomerat. Diantara mereka zio adalah yang paling menawan dan juga cerdas. Ia yang paling populer diantara para gadis disekolahnya. Meski begitu, tak ada satupun yang menarik hati zio. Meski begitu, sikapnya kepada mereka sama. Hangat dan menyenangkan. Zio tak sungkan untuk membantu.
Suatu ketika saat zio kelas 2 SMP ada sorang cowok yang bertampang preman mencegat zio dan memarahinya. Nampaknya ia siswa adalah siswa SMA. Ia bilang bahwa zio sudah merebut pacarnya. Zio yang tak tau maksudnya, hanya diam tak menghiraukannya. Cowok preman yang marah itu langsung menghajar zio hingga babak belur. Alex dan raivan yang datang dari belakang segera berlari dan menyelamatkan zio. luka yang dialaminya cukup parah dan membuatnya harus dirawat di rumah sakit selama seminggu. Setelah keluar dari rumah sakit, Zio mendengar kabar bahwa gadis yang katanya pacar cowok yang mengeroyok Zio meninggal karena bunuh diri. Sejak saat itu zio tak mau lagi mendekati perempuan. Ia lebih menyukai perempuan dari balik lensa kamera dan tetap menjaga jarak aman dengan mereka.
Kepiawaiannya dalam memotret semakin berkembang. Ia banyak mengikuti lomba, dan dibantu oleh kedua sepupunya alex dan raivan. Saat zio memutuskan untuk kuliah di Inggris alex dan raivan mengikuti zio dan kuliah bersama. Mereka tetap mengembangkan bakat mereka dan sukses dalam berbagai kompetisi foto.
Dua bulan lalu terjadi keributan. Dua orang gadis saling bertengkar dan mengatakan bahwa zio adalah miliknya. Karena hal itu zio diberi sanksi oleh kampus. Zio yang tak tahan dengan gadis-gadis yang selalu memperebutkannya karena wajahnya dan hartanya akhirnya memilih kembali ke Indonesia dan kuliah di daerah yang jauh dari kota yang ramai. Zio berharap akan mendapat sedikit ketenangan jika tak ada yang tau latar belakang keluarganya.
Kepindahan zio disisi lain berdampak pada karir foto mereka. Mereka tak memiliki model, sementara kompetisi akan segera dimulai.
Tapi, bertemu dengan azura adalah hal yang lain. Bahkan matanya langsung memilih azura sebagai modelnya.

.......................

"aku harap kau mengerti zura" ucap raivan mengakhiri ceritanya.
"jadi, karena itu...apa kau yakin aku bisa?"
"seperti yang zio bilang. Matanya tak pernah salah. Percayalah." ucap raivan meyakinkan.
"baiklah, akan kucoba semampuku."
Alex kegirangan dan langsung memeluk azura. Tiba-tiba ada yang menariknya menjauh dari azura. Bukan raivan karena raivan sama terkejutnya dengan azura melihat sikap alex. Itu zio.
"menyingkirlah dari pacarku, alex"
"APA? PACAR?" azura, raivan, dan alex berteriak serempak
Zio menarik azura dan membawanya pergi tak menghiraukan serbuan pertanyaan alex dan raivan dari belakangnya. Ia melajukan mobilnya menjauh dan pergi.

.....................

"jadi,kau trauma dan tak mau dekat perempuan lagi?" tanya azura memecah keheningan
"apa yang raivan ceritakan padamu?"
"raivan? Semuanya. Tentang masa lalumu dan masalahmu."
"orang itu. Lalu?"
"lalu apanya? Disini aku yang bertanya. Apa kau trauma vanizio? Lalu kenapa kau bisa selalu saja menggangguku? Kau tak takut denganku?"
Zio tak bisa menjawab. Ia juga tak mengerti.
"jujur, iya aku trauma dan aku tak tau kenapa aku bisa menyentuhmu. Seolah kau berbeda."
"maksudmu aku tak tampak seperti perempuan?"
"iya, maksudku tidak.."zio menjawab dengan gugup.
"tak apa zio..."
"zura, aku tak tau. Aku selalu melihat perempuan dari balik lensa dan menjaga jarak dengan mereka. Tapi, sejak awal aku melihatmu, itu bukan dengan lensa tapi dengan mataku sendiri. Seolah kau begitu dekat dan berbeda. Aku tau kau tak percaya dan menganggapku merayumu..."
"tidak, aku percaya."
"apa?"
"kenapa terkejut begitu. Aku tau kau sebenarnya penuh perhatian. Kau hanya pura-pura dingin. Bahkan tanganmu sangat hangat."
Zio hanya tersenyum. Raut wajahnya memerah karena menahan malu. Zio mengakui apa yang dikatakan azura memang benar. Mobil yang dikendarai mereka melaju dan akhirnya sampai didepan kos azura. Setelah mengucap perpisahan azura masuk kedalam. Zio kembali memutar mobilnya dan pulang langsung kerumahnya. Rumah zio berada di area perumahan elite. Rumah itu nampak mewah dan besar. Zio tinggal disana sendiri. Sementara raivan dan alex masing-masing sudah punya rumah sendiri di tempat yang berbeda.
Zio masuk ke dalam dan segera mandi. Selesai mandi dan berganti pakaian zio merebahkan badannya di kasur. Matanya menerawang ke langit-langit kamar. Pikirannya melayang entah kemana. Zio mulai memejamkan matanya dan tidur. Hari yang melelahkan...


Esok harinya, azura datang ke kelas. Seluruh isi kelas menatap kedatangan azura. Oh iya, kejadian kemarin. Aku bahkan hampir lupa... Azura duduk dengan lemas. Segera fara menghampirinya dan bersiap mengintrogasi azura. Belum sempat fara membuka mulut azura sudah meletakkan jarinya di mulut fara
"stop. Aku tau." ucap azura sebelum fara mulai mengintrogasinya
"ayolah zura. Ini gosip terpanas. Kau benar-benar...." ucapan fara terhenti, matanya terpana melihat sosok zio yang datang dan langsung duduk di sebelah azura.
Sesaat suasana menjadi sunyi dan menegangkan.
"aah, sekarang kau pacarku. Aku hampir lupa." ucap zio memecah keheningan di kelas
"apa?sejak kapan? Zio..." zio menatap azura dan membuat azura tak mampu melanjutkan kata-katanya.
"bukankah kemarin. Saat di mobil."
"apa?mobil?"
"iya. Kau bilang kau percaya padaku. Itu berarti kau menerima jadi pacarku kan.."
"memang iya aku bilang begitu, tapi..."
"ssssst" zio mencegah azura melanjutkan kata-katanya dan hanya menatap azura dengan senyum penuh makanya.
Suasana kembali hening. Hanya terdengar bisikan kasak kusuk beberapa anak di belakang.

Usai sudah pelajaran terakhir untuk hari ini. Lumayan hari ini kuliah terakhir hanya sampai jam 12 siang. Masih ada banyak waktu untuk istirahat. Azura mengemasi bukunya dan bergegas pulang. Zio menarik tangan azura dan mencegahnya pulang.
"kau harus ikut aku hari ini" segera zio menarik tangan azura dan pergi meninggalkan kelas. Zio membawa azura ke salon. Disana raivan dan alex ternyata sudah menunggu kedatangan mereka.



TBC

0 komentar:

Posting Komentar