THE WAY OF LOVE
CHAPTER 4
******
"salon? Apa ini salonmu?"
"ya, dan tidak. Ini salonku dan kedua temanku. Alex dan
Raivan."
"mereka yang waktu itu.."
"iya. Mari masuk"
Zio membawa azura masuk dan mengajaknya keatas menaiki
tangga. Ruangan dilantai dua nampak seperti sebuah ruang keluarga. Ada kursi
dan meja. Lalu dipojok ada sofa panjang yang nampak nyaman untuk tidur. Di
dinding ada tv LCD yang cukup besar. Dinding kaca di sebelah meja dan kursi
membuat nuansa ruangan itu menjadi terang dan nyaman. Lalu, masih ada tangga
untuk keatas lagi. Dari tangga itu muncul dua orang. Sepertinya mereka alex dan
raivan.
"ah kau sudah datang zio" sapa salah satunya yang
memiliki rambut agak panjang dan pakaian yang rapi.
"baru saja."
"alex tak sabar menunggumu dari tadi"
"kau lama sekali zio" kata seorang lagi yang
memiliki gaya mirip seperti rocker.
Zio menatap azura dan mulai mengenalkannya pada kedua temannya
yang sekarang sudah berdiri disampingnya."ini alex dan raivan.
Temanku."
"dan juga sepupunya. Namaku raivan. Aku yang tertua dan
menjadi kakak mereka berdua. Disini aku berprofesi sebagai penata
kostum." sapa raivan yang memiliki
rambut lebih panjang dan wajahnya memang nampak lebih dewasa diantara mereka
semua.
"kita hanya beda beberapa bulan saja. Hai, aku alex. Aku
yang paling muda. Aku sebagai penata rias. Tapi jangan salah. Aku 100% pria
sejati." sapa yang berpenampilan rocker yang mengaku bernama alex.
"dan aku vanizio. Lahir dua bulan dibawah raivan dan dua
bulan diatas alex. Aku fotografer."
Azura tersenyum melihat mereka bertiga. "jadi apa
hubungannya denganku?"
"jelas ada" jawab alex sambil tersenyum
"kau akan jadi model kami." jelas raivan
"apa?model?" azura terkejut. "kalian pasti
bercanda. Apa virus zio juga mengenai kalian? Itu tidak lucu."
"virus zio? Kau bilang ingin tau. Itu alasannya kenapa
aku mengikutkan fotomu di kontes.agar kau percaya bahwa kau bisa menjadi model
foto kami." jelas zio agak kesal
"maaf. Tapi itu seperti kalian sedang bercanda. Mana
mungkin..." belum selesai azura berbicara zio sudah memotongnya.
"kau menang kan?"
"tapi itu kebetulan."
"gak ada kebetulan zura. Kenapa kau tak percaya. Mataku
tak pernah salah. Dan kini mataku melihatmu." azura hanya terdiam
mendengar penjelasan zio. "ada banyak hal yang tak kau ketahui dan
terkadang kau dapat melihatnya melalui lensa kamera. Itu salah satunya."
lanjut zio menjelaskan.
"zio sudah banyak memotret model dan kami mengikuti setiap
perlombaan. Hasilnya bagus. Kami selalu mendapat juara. Tapi, karena zio pindah
kemari, kami juga mengikutinya." tutur raivan
"dan itulah masalahnya, untuk perlombaan kali ini, kami
tak punya model. Karena model kami yang biasanya ada di Inggris. Itu sebabnya
kami meminta bantuanmu." tambah alex.
"kalau kau tak mau tak apa" zio agak kecewa. Ia
pergi kelantai atas begitu saja meninggalkan mereka bertiga.
"jangan khawatir. Zio sebenarnya baik." ucap raivan
mencoba menghibur azura
"aku tau, hatinya hangat. Bahkan tangannyapun
hangat." ucap azura
"kau tau? Dia hanya berpura-pura. Dia orang paling
perhatian diantara kami bertiga." jelas alex sambil tersenyum
"jadi begini, zura..." raivan mulai berbicara
kepada azura mengenai permasalahan mereka. Raivan menceritakan awal mula semua
kejadian itu kepadanya.
...................
Raivan, zio dan alex merupakan sepupu. Usia mereka hanya
terpaut beberapa bulan. Dari kecil mereka sudah bersama dan tumbuh bersama.
Sekolahpun mereka selau bersama. Karena wajah mereka yang rupawan mereka
dijuluki sebagai tiga pangeran. Bukan saja wajah yang rupawan, keluarga mereka
juga termasuk keluarga konglomerat. Diantara mereka zio adalah yang paling
menawan dan juga cerdas. Ia yang paling populer diantara para gadis disekolahnya.
Meski begitu, tak ada satupun yang menarik hati zio. Meski begitu, sikapnya
kepada mereka sama. Hangat dan menyenangkan. Zio tak sungkan untuk membantu.
Suatu ketika saat zio kelas 2 SMP ada sorang cowok yang
bertampang preman mencegat zio dan memarahinya. Nampaknya ia siswa adalah siswa
SMA. Ia bilang bahwa zio sudah merebut pacarnya. Zio yang tak tau maksudnya,
hanya diam tak menghiraukannya. Cowok preman yang marah itu langsung menghajar
zio hingga babak belur. Alex dan raivan yang datang dari belakang segera
berlari dan menyelamatkan zio. luka yang dialaminya cukup parah dan membuatnya
harus dirawat di rumah sakit selama seminggu. Setelah keluar dari rumah sakit,
Zio mendengar kabar bahwa gadis yang katanya pacar cowok yang mengeroyok Zio
meninggal karena bunuh diri. Sejak saat itu zio tak mau lagi mendekati
perempuan. Ia lebih menyukai perempuan dari balik lensa kamera dan tetap
menjaga jarak aman dengan mereka.
Kepiawaiannya dalam memotret semakin berkembang. Ia banyak
mengikuti lomba, dan dibantu oleh kedua sepupunya alex dan raivan. Saat zio
memutuskan untuk kuliah di Inggris alex dan raivan mengikuti zio dan kuliah
bersama. Mereka tetap mengembangkan bakat mereka dan sukses dalam berbagai
kompetisi foto.
Dua bulan lalu terjadi keributan. Dua orang gadis saling
bertengkar dan mengatakan bahwa zio adalah miliknya. Karena hal itu zio diberi
sanksi oleh kampus. Zio yang tak tahan dengan gadis-gadis yang selalu
memperebutkannya karena wajahnya dan hartanya akhirnya memilih kembali ke
Indonesia dan kuliah di daerah yang jauh dari kota yang ramai. Zio berharap
akan mendapat sedikit ketenangan jika tak ada yang tau latar belakang
keluarganya.
Kepindahan zio disisi lain berdampak pada karir foto mereka.
Mereka tak memiliki model, sementara kompetisi akan segera dimulai.
Tapi, bertemu dengan azura adalah hal yang lain. Bahkan
matanya langsung memilih azura sebagai modelnya.
.......................
"aku harap kau mengerti zura" ucap raivan
mengakhiri ceritanya.
"jadi, karena itu...apa kau yakin aku bisa?"
"seperti yang zio bilang. Matanya tak pernah salah.
Percayalah." ucap raivan meyakinkan.
"baiklah, akan kucoba semampuku."
Alex kegirangan dan langsung memeluk azura. Tiba-tiba ada
yang menariknya menjauh dari azura. Bukan raivan karena raivan sama terkejutnya
dengan azura melihat sikap alex. Itu zio.
"menyingkirlah dari pacarku, alex"
"APA? PACAR?" azura, raivan, dan alex berteriak
serempak
Zio menarik azura dan membawanya pergi tak menghiraukan
serbuan pertanyaan alex dan raivan dari belakangnya. Ia melajukan mobilnya
menjauh dan pergi.
.....................
"jadi,kau trauma dan tak mau dekat perempuan lagi?"
tanya azura memecah keheningan
"apa yang raivan ceritakan padamu?"
"raivan? Semuanya. Tentang masa lalumu dan
masalahmu."
"orang itu. Lalu?"
"lalu apanya? Disini aku yang bertanya. Apa kau trauma
vanizio? Lalu kenapa kau bisa selalu saja menggangguku? Kau tak takut
denganku?"
Zio tak bisa menjawab. Ia juga tak mengerti.
"jujur, iya aku trauma dan aku tak tau kenapa aku bisa
menyentuhmu. Seolah kau berbeda."
"maksudmu aku tak tampak seperti perempuan?"
"iya, maksudku tidak.."zio menjawab dengan gugup.
"tak apa zio..."
"zura, aku tak tau. Aku selalu melihat perempuan dari
balik lensa dan menjaga jarak dengan mereka. Tapi, sejak awal aku melihatmu,
itu bukan dengan lensa tapi dengan mataku sendiri. Seolah kau begitu dekat dan
berbeda. Aku tau kau tak percaya dan menganggapku merayumu..."
"tidak, aku percaya."
"apa?"
"kenapa terkejut begitu. Aku tau kau sebenarnya penuh
perhatian. Kau hanya pura-pura dingin. Bahkan tanganmu sangat hangat."
Zio hanya tersenyum. Raut wajahnya memerah karena menahan
malu. Zio mengakui apa yang dikatakan azura memang benar. Mobil yang dikendarai
mereka melaju dan akhirnya sampai didepan kos azura. Setelah mengucap perpisahan
azura masuk kedalam. Zio kembali memutar mobilnya dan pulang langsung
kerumahnya. Rumah zio berada di area perumahan elite. Rumah itu nampak mewah
dan besar. Zio tinggal disana sendiri. Sementara raivan dan alex masing-masing
sudah punya rumah sendiri di tempat yang berbeda.
Zio masuk ke dalam dan segera mandi. Selesai mandi dan
berganti pakaian zio merebahkan badannya di kasur. Matanya menerawang ke
langit-langit kamar. Pikirannya melayang entah kemana. Zio mulai memejamkan
matanya dan tidur. Hari yang melelahkan...
Esok harinya, azura datang ke kelas. Seluruh isi kelas
menatap kedatangan azura. Oh iya, kejadian kemarin. Aku bahkan hampir
lupa... Azura duduk dengan lemas. Segera fara menghampirinya dan bersiap
mengintrogasi azura. Belum sempat fara membuka mulut azura sudah meletakkan
jarinya di mulut fara
"stop. Aku tau." ucap azura sebelum fara mulai
mengintrogasinya
"ayolah zura. Ini gosip terpanas. Kau
benar-benar...." ucapan fara terhenti, matanya terpana melihat sosok zio
yang datang dan langsung duduk di sebelah azura.
Sesaat suasana menjadi sunyi dan menegangkan.
"aah, sekarang kau pacarku. Aku hampir lupa." ucap
zio memecah keheningan di kelas
"apa?sejak kapan? Zio..." zio menatap azura dan
membuat azura tak mampu melanjutkan kata-katanya.
"bukankah kemarin. Saat di mobil."
"apa?mobil?"
"iya. Kau bilang kau percaya padaku. Itu berarti kau
menerima jadi pacarku kan.."
"memang iya aku bilang begitu, tapi..."
"ssssst" zio mencegah azura melanjutkan
kata-katanya dan hanya menatap azura dengan senyum penuh makanya.
Suasana kembali hening. Hanya terdengar bisikan kasak kusuk
beberapa anak di belakang.
Usai sudah pelajaran terakhir untuk hari ini. Lumayan hari
ini kuliah terakhir hanya sampai jam 12 siang. Masih ada banyak waktu untuk
istirahat. Azura mengemasi bukunya dan bergegas pulang. Zio menarik tangan
azura dan mencegahnya pulang.
"kau harus ikut aku hari ini" segera zio
menarik tangan azura dan pergi meninggalkan kelas. Zio membawa azura ke salon.
Disana raivan dan alex ternyata sudah menunggu kedatangan mereka.TBC





0 komentar:
Posting Komentar